Cerpen cinta 'Sweety Heart' Part ~ 03

Dengan wajah ceria, Penulis cantik ini nongol kepermukaan layaknya seorang ‘Hero’. Kekekekek, menghayal dikit. Hehehe, karena udah bisa melanjutkan nih cerpen yang ga tau juga mau dibawa kemana, penulis cantik ini pun datang juga membawa cerpen kelanjutan Cerpen cinta Sweety heart yang baru dua part kemaren.

Dan untuk cerpen cinta Mendadak naksir. Sepertinya itu akan membutuh kan waktu lebih lama lagi kayaknya #Ditabok kekekke.... Okkelah, dari pada kebanyakan bacod ga jelas. Mending langsung cek kelanjutannya saja yuk. Over all, happy reading.

Cerpen cinta 'Sweety Heart' Part ~ 03
Cerpen Sweety Heart

“Ma maaf Aku Cuma punya segini...” Terdengar suara dengan nada takut-takut saat Savira melewati sebuah lorongan dikampusnya. Segera Savira menghentikan langkahnya dan sedikit memfokuskan pendengarannya “Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa memberikan lebih banyak dari ini...” Lanjut suara itu dengan nada masih ketakutan.


“Huffhhh...” Terdengar helaan penuh kekesalan.


“Hanya segini yang aku punyaa...” Kembali suara takut itu terdengar, Tidak mau ikut campur Savira siap kembali melangkah saat langkahnya malah terhenti begitu mendengar kelanjutan dari suara ketakutan yang didengarnya “Farel... maafkan aku” Lanjutnya.


“Hanya segini yang kamu punya??? Setelah sekian lama, hanya segini yang bisa kamu berikan pada ku?!” terdengar bentakan yang bukan hanya membuat makhluk didepannya berjengit, tapi juga membuat Savira ikut berjengit kaget dan refleks menyentuh dadanya yang gemuruh detakan terdengar keras karena terkejut.


“Mungkin lain kali aku bisa memberikan lebih banyak lagi...” Balas suara ketakutan itu terdengar makin gemetaran. Dengan ekspresi marah Savira melangkah mendekati suara, meamstikan apakah orang yang disana adalah orang yang dikenalnya. Dan tak jauh beberapa langkah darinya tampak Farel dan seseorang yang kebetulan membelakanginya sedang berdiri. Tanpa menjadi orang pintar Savira seperti sudah menebak apa yang terjadi.


“Haiss... ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, kalau begitu berikan yang kamu punya saat ini kepadaku” Ucap Farel dengan nada malas-malasan dan menyadongkan tangannya. Dan dengan tangan gemetaran makhluk didepannya menyerahkan uang yang berada ditangannya kearah Farel. Tapi belum sempat uang itu diterimanya, dengan cepat sekarang malah sudah bermindah tangan yang dengan terang-terangan dirampok didepan matanya.


“Apa-apaan semua ini!” Bentak Savira langsung.


“Memangnya ada apa?” Farel menjawab asal-asalan.


“Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain meminta uang dari orang lain ha?! Farel Farel... ternyata begini kelakuan kamu selama ini. Huh,” Ucap Savira sambil menatap penuh kesebelan kearah makhluk didepannya.


“Maksud kamu apa sii Sav, ga ngerti deh” Kembali Farel mengatakan yang makin membuat Savira malah eneg mendengarnya. Dasar munafik, fikirnya.


“Orang bego ajja pasti bakalan tau kemana arah semua ini. Kamu meminta uang anak kampus kita, memangnya kamu semiskin itu ya. Huh, dasar... dan kamu juga...” Tunjukkan kepada makhluk yang tadi ingin memberikan uang itu kepada Farel “Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti ini” Lanjutnya.


“Tolong kamu jangan ikut campur. Aku tidak mau membuat Farel makin marah” jawab orang itu yang seperti nya dari nada itu terdengar sarat emosi.


“Kamu takut dengannya? Dengan makhluk seperti dia?! Astaga! Ahh sudahlah, itu tidak penting. Dan kamu Farel” Ucap Savira dan kembali menunjuk kearah Farel dengan tajam. Tapi yang ditunjuk malah terlihat santai tanpa memperdulikan kesebelan Savira yang makin memuncak “Jangan pernah sekali-kali kamu mengulangi tindakanmu. Asal kamu tau saja, ini benar-benar memalukan!” Bentaknya.


“Savira, kamu salah faham!” Tandas Farel yang sepertinya dengan enggan mengatakan itu.


“Salah faham bagaimana maksudmu. Jelas-jelas aku mendengar dan melihat kamu melakukannya. Kamu masih mau menyangkalnya? Ia? Huh, benar-benar memalukan Farel!” Ucap Savira tegas.


“Ahh ya sudah laahhh... aku juga tidak mau makin memperumit ini. Aldi, kita bicarakan saja nanti. Kamu selesaikan ini dulu” Kata Farel kearah seseorang yang masih ketakutan disampingnya.


“Kamu masih berani memintanya kembali?!” Ucap Savira ga percaya.


“Aku sudah mengatakan kamu salah faham Savira!” Tegas Farel “Dann sepertinya aku juga tidak ada niat untuk menjelaskannya meskipun aku bisa. Aku yakin, kamu juga tidak akan percaya. Kalau begitu, hanya ini yang bisa aku lakukan...” Lanjutnya dan melangkah kearah Savira yang sebenarnya tidak jauh darinya. Farel mendekatkan wajahnya tepat didepan Savira. Melihat reaksi disana. Refleks wajah ketakutan terpancar diwajah Savira.


“Menyingkir. Dari. Pandanganku. Sekarang!” Tegas Savira yang masih terlihat ketakutan, Farel tersenyum sekilas, dan mengerling yang membuat Savira mati-matian merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia malah terpesona. Dan dengan jarak yang sedekat itu, Savira merasakan hembusan nafas segar Farel menerpa wajahnya.


“Setelah masalah ini selesai, aku akan berada diatap kampus. Dan kalau kamu ingin mengucapkan maaf. Temui aku disana” ucap Farel sambil tersenyum. Kemudian memberikan jarak diantara mereka. Dan sebelum Savira menyadari apa yang terjadi, ia sudah membalikkan badan dan melangkah pergi.


“Silahkan bermimpi, aku tidak akan pernah mau menemuimu! Tidak akan pernah! Dan jangan berharap terlalu besar, aku tidak akan melakukannya. Apalagi sampai harus minta maaf terhadapmu!” Tandas Savira setelah tersadar dari keterkejutannya. Walau Farel menjauh ia tau Farel pasti akan tetap mendengar suaranya. Dengan bukti saat Farel mengangkat sebelah tangannya dan melambai tanpa menoleh, mengisyaratkan kalau dia tidak perduli dan tetap melangkah dengan kepercayaan dirinya.


“Dasar makhluk menyebalkan” Gerutu Savira, lalu menoleh kesamping “Kamu aldi kan? Ini, aku kembalikan uang mu” Lanjutnya sambil tersenyum.


“Kamu benar-benar pembuat masalah!” Kalimat balasan dari aldi cukup untuk membuat Savira terkejut, setelah apa yang dia lakukan. Malah kalimat itu yang ia dengar, astaga!


“Aku?” Ucap Savira kaget.


“Tentu saja. Aku baru saja ingin memberikan uang ini kepada Farel. Kenapa kamu malah menghalanginya. Pasti Farel akan marah lagi kepadaku, haiss apa yang harus aku katakan kepadanya nanti. Aku tidak mau mengulangi ketakutanku seperti tadi” Terdengar nada frustasi dari aldi.


“Apa yang kamu takutkan. Ini uangmu. Kenapa kamu harus memberikannya pada Farel?”


“Uang ini memang milikku. Yaahh setidaknya, itu lah yang kamu lakukan. Tapi asal kamu tau saja. Aku itu berhutang kepada Farel. Dan ini sudah lewat dari batasan yang seharusnya. Aku tidak tau lagi harus membayar hutangku seperti apa lagi, jadi aku menyicilnya meski ini sangat tidak seberapa dengan apa yang telah diberikannya kepadaku. Jadi wajar saja kalau Farel marah. Hais, kamu benar-benar merepotkan!” Kalimat terakhir dari aldi memang terdengar mengagetkan dan membuat Savira mematung. Tapi kalimat-kalimat sebelumnya juga tidak jauh mengagetkannya. Sepertinya ia salah mengeartikan dan benar-benar melakukan kesalahan pada hidupnya.


“Dan nanti, aku tidak tau lagi harus melakukan apa.!” Tandas Aldi sambil mengambil kembali uang yang berada ditangan Savira dengan ekspresi marah yang jelas ketara. Lalu melangkah meninggalkan Savira yang masih mematung ditempatnya.


“Bayar hutang?” Pertanyaan itu terdengar dari mulut Savira seolah bertanya pada dirinya sendiri. Jika Aldi tadi berniat bayar hutang, berarti apa yang dilakukannya tadi benar-benar tindakan yang... memalukan! Astaga. Apa yang akan ia katakan kepada Farel nanti? Pantas saja laki-laki itu mengatakan hal demikian. Savira merutuki dirinya sendiri penuh penyesalan. Apa yang harus ia lakukan sekarang???

~ Cerpen cinta 'Sweety Heart' ~



Dengan langkah ragu, Savira menaiki satu persatu anak tangga kampusnya. Sudah sejak tadi ia menimbang apa yang harus ia lakukan. Tapi semakin difikir dorongan untuk menghampiri Farel semakin besar, kalau diingat-ingat kembali, memang seharusnya ia meminta maaf kepada Farel. Apalagi seharian ini ia sudah berusaha untuk menghindari dari kedua sahabatnya. Dirga dan Seril, mengingat betapa menyakitkannya menatap mereka berdua. Dan sebisa mungkin ia juga menghindari kontak langsung dengan mereka. Berusaha keras agar ia tidak salah dalam bicara. Bersikap cuek untuk menutupi sakit dihatinya.

Tapi langkah Savira terhenti saat tiba-tiba tangannya ditahan seseorang. Secara refleks, Savira menoleh kesamping. Kaget mendapati dua pasang mata menatap tajam kearahnya, melupakan rasa sakit dihatinya sepertinya rasa takut lebih ia rasakan saat ini. Dalam hati ia berguman, sepertinya lebih baik ia mulai membuat kesalahan, agar rasa sakit dihatinya bisa sedikit terhindar, walau tetap harus tergantikan dengan rasa takut. Yaahh setidaknya lebih baik dari pada harus membenci perasaannya sendiri.

“Kenapa kamu menghindari kita berdua?!”

“Enggak” Elak Savira menyembunyikan kegugupannya, walau bagaimanapun ia tidak mungkin bersikap buruk kepada kedua sahabatnya.

“Itu bukan pertanyaan Savira. Jadi ga bisa dijawab” Tandas Seril menjelaskan pernyataan Dirga tadi, dan saat ini Savira benar-benar bingung menghadapi situasi seperti ini. Benar-benar membuat keringat dingin mengucur dari wajahnya.

“Aku tidak sedang menghindar” Kembali Savira menjelaskan.

“Lalu kenapa dari tadi kamu hanya diam. Dan sekarang malah ga tau mau kemana, kamu seolah berusaha untuk jauh-jauh dari kita berdua. Apakah ada yang membuat kamu membenci kami?” Tanya Seril langsung. Membuat Savira sedikit gugup, apalagi Dirga juga menatapnya minta penjelasan.

Savira terdiam, apakah ia harus menceritakan apa yang sedang ia rasakan, karena tiba-tiba rasa nyesek itu mulai merambati hatinya kembali, apalagi saat melihat sedari tadi Dirga dan Seril tampak makin dekat. Benar-benar membutuhkan tenaga ekstra untuk menahan gemuruh cemburu dalam dirinya. Savira menatap kedua sahabatnya pasrah, dan dengan lemas terduduk disalah satu anak tangga yang tadi masih dipijaknya. Sepertinya ia juga sudah tidak memperdulikan walau itu akan membuat celana yang ia kenakan kotor.

“Savira... kamu kenapa?” Tanya Seril dan ikut duduk disamping Savira, menatapnya penuh perhatian, tidak biasanya sahabatnya yang satu ini bersikap demikian. Karena biasanya hanya dia yang paling ceria. Ditambah lagi sering bercanda dan menggoda yang lain. Tapi saat ini malah terlihat cuek dan seolah menyembunyikan sesuatu.

“Kalau ada masalah kamu punya kita berdua untuk berbagi” Tawar Dirga dan ikut menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan pandangan mereka, meski ia tidak kebagian ikut duduk bersama, tapi sebagai laki-laki ia tidak pernah mempermasalahkan itu.

“Sebenarnyaa... aku itu...” Savira tampak ragu sementara kedua sahabatnya sedang menanti kelanjutan dari ceritanya “Sedang patah hati” Lanjut Savira lalu menghembuskan nafas kesal.

“Patah hati??? Emang kamu kapan jatuh cintanya?” Pertanyaan langsung yang terlontar dari Dirga langsung mendapat tatapan tajam dari Seril, haduuh laki-laki itu benar-benar tidak bisa diajak curhat “O’o sepertinya aku salah bicara, sebaiknya kamu tidak mendengarkan pertanyaanku tadi” Lanjutnya sebenlum ia mendapat amukan dari kedua sahabatnya. Sepertinya ini bukan saatnya untuk bercanda walau sebnearnya pertanyaan tadi memang terlontar bukan untuk bercanda.

“Memangnya apa yang terjadi?” Tanya Seril lembut.

“Orang yang aku suka, ternyata menyukai orang lain. Dan aku menyukainya bahkan sudah lebih dari dua tahun yang lalu” Jawab Savira, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri “Dan saat ini... aku benar-benar sedang ingin sendiri, makanya aku menghindari kalian. Maaf ya?” lanjutnya. Seril tersenyum maklum, sementara Dirga lebih memilih untuk diam.

“Kenapa kamu menyimpan ini sendiri, kamu tau kan kalau kamu masih punya kita berdua. Kamu bisa menceritakan apapun kepadaku, atau kepada Dirga. Kita tidak kenal sehari-dua hari. Tapi sudah begitu lama bukan?” Ucap Seril.

“Aku tau. Tapi sepertinya sejak tadi, yaahh setidaknya itu yang aku fikirkan tadi. Untuk tetap menyembunyikan cerita ini sebagai kisahku sendiri. Tanpa harus ada yang mengetahuinya. Dan Maaf. Hanya cerita itu yang bisa aku katakan. Aku tidak bisa menceritakannya lebih lanjut” Kata Savira dan berusaha untuk tersenyum. Ia tidak bisa menyakiti sahabatnya, sudah cukup baik mereka berdua selalu ada untuknya, ia tidak mungkin merusak itu hanya untuk keegoisan perasaanya sendiri.

“Baiklah Savira, aku bisa mengerti. Tapi kamu harus ingat, aku akan selalu ada untuk mu disaat kapanpun. Kamu bisa menceritakan apapun kepadaku, dan aku akan tetap mendengarkanmu. Kalau aku bisa, aku juga pasti akan membantumu. Sebisaku, meskipun harus mengorbankan perasanku sendiri. Karena kamu tau, kamu adalah sahabat terbaikku” Kata Seril sambil tersenyum, Savira juga tersenyum menganggapi.

“Terimakasih Seril. Kamu juga sahabt terbaikku” Ucap Savira terharu dan memeluk sahabatnya.

“Ehem ehm ehhmmm... jadi kalian berdua aja nih yang sahabt baik. Aku ga diajak” Dirga tampak cemberut.

“Kamu juga sahabat baikku” Ucap Seril dan Savira hampir bersamaan, lalu keduanya saling menoleh dan tiba-tiba tertawa. Dirga juga ikut tertawa. Yaahh sepertinya kebersamaan ini juga membuat Savira bisa lebih menerima dan mengalah demi persahabatan mereka. Ia tidak mungkin menghancurkan persahabatan ini hanya demi keegoisan perasaanya sendiri.

~ Cerpen cinta 'Sweety Heart' ~



Farel menghembuskan nafas kesal, sepertinya Savira tidak akan datang menemuinya. Apa gengsi gadis itu memang lebih tinggi dari pada rasa bersalah. Atau memang sepertinya gadis itu tidak berniat untuk meminta maaf. Dan fikiran-fikiran buruk lainnya langsung bergentayangan diingatannya. Bagaimana kalau Aldi tidak menceritakan kebenarannya, bagaimana kalau Savira juga tidak memperdulikan tentang dirinya, rasa berslaahnya atau apapun.

Kenapa hal itu tidak terfikirkan sejak tadi, bahkan ia sudah menyelesaikan buku yang ia bawa untuk ia habiskan menunggu disini. Atau tidak juga sii, karena sebenarnya itu memang tempat ia untuk menghabiskan waktunya, membaca buku-buku koleksinya yang memang begitu banyak dimiliki. Biasanya ia tetap akan betah berapa lama pun ia disana, tapi saat ini ia benar-benar merasa bosan.

Farel melangkah menghampiri sisi atap bagungan kampusnya, menatap betapa indahnya kota ini dilihat dari atas pemandangannya. Melihat betapa kecilnya mobil dibawah sana, berusaha membuang jauh-jauh fikiran membosankan itu. Farel merentangkan kedua tangannya, berusaha untuk merasakan kesegeran dan angin yang menerpa wajahnya. Menikmati setiap apa yang terasa disekitarnya. Menarik nafas yang entah kenapa begitu ia nantikan. Seolah itu semua bisa membuat ia merasa lebih tenang. Bahkan Farel juga memejamkan mata saking ia menikmati apa yang ia lakukan.

“Kamu tidak berniat untuk terjun kebawah bukan?” Pertanyaan itu langsung membuat Farel membuka matanya, kemudian menoleh kearah Savira yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya, dan secara refleks seperti sudah sepantasnya itu terjadi, saat ia menatap Savira, lagi-lagi perasaan marah, sebel, kecewa atau apapun langsung menguap begitu saja. Tergantikan dengan rasa kekaguman yang mampu membuatya tersenyum. Sepertinya cinta nya tehadap Savira sudah benar-benar melibihi taraf wajar.

“Kenapa kamu datang?” Tanya Farel berusaha untuk menyembunyikkan senyum kebahagiaan dibibirnya, dan hanya tergantikan dengan senyuman tipis yang sepertinya disalah artikan oleh Savira menjadi senyum sinis.

“Apakah kamu benar-benar marah terhadapku?” Tanya Savira hati-hati dan menunduk gugup. Entah kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul dengan sendirinya, Savira sendiri tidak menyadari jika suaranya sedikit bergema karena kegugupan yang terus menjalari tubuhnya. Farel tersenyum, menikmati kegugupan Savira yang masih tidak berani untuk menatapnya.

“Apakah kamu takut jika aku marah?” Pertanyaan Farel seolah membangunkan keegoisan Savira karena itu membuatnya mendongak dan menatap tajam kearah Farel. Berusaha untuk menguasai dirinya sendiri dan menaikkan tingkat kegengsiannya.

“Tidak.!” Tadas Savira “Dan lupakan. Angap saja, aku salah karena aku datang kemari” Lanjutnya dan siap melangkah pergi, tapi dengan sigap Farel langsung menahannya.

“Benar-benar tidak pernah berubah. Emosi mu sepertinya berhasil mengangkat kegengsianmu lebih tinggi dari sebelumnya” Ucap Farel sambil tersenyum.

“Tidak usah sok mengenalku lebih dari siapapun” Balas Savira sebel.

“Tapi aku memang mengenalku lebih dari pada siapapun. Dan akuu...”

“Aku tidak percaya” Potong Savira “Aku tidak mengenalimu Farel. Dan apapun yang kamu lakukan tidak berpengaruh terhadapku” Lanjutnya. “Kecuali jantungku” Lanjutnya dalam hati. Entah kenapa jantungnya terus bereakis saat kontak langsung terjadi dengan Farel. Jantungnya seolah meraskan kerinduan yang amat sangat, tapi karena emosi dan tingkat ke gengsiannya lebih tinggi dari itu semua. Savira lebih memilih menahan perasaan itu. Fikirannya mengatakan ia tidak mengenali Farel meski hatinya berbanding balik. Tapi tetap itu tidak membuat nya mengalah.

“Baiklah. Mungkin ingatanmu tidak, tapi aku yakin hatimu ia” Seolah bisa membaca fikiran Seril, Farel menjawab penuh perasaan dan percaya diri.

“Jangan asal bicara, asal kamu tau saja. Aku menyukai orang lain”

“Dirga” Ucap Farel dengan malas-malasan, Savira menatap kaget kearahnya "Orang yang kamu suka itu Dirga kan?" Lanjutnya dan menatap lurus kearah Savira yang semakin kaget. Bagaimana mungkin Farel mengetahui perasaanya. Apakah laki-laki itu peramal? Atau jangan-jangan dia tau karena sering memata-matainya, kalau Farel mengatakan kepada kedua sahabatnya, maka habislah dia saat ini. Savira menatap tajam kearah Farel yang masih menatap tajam kearhnya. Tuhan, bagaimana ini... Batin Savira takut, dan kelanjutan dari kata-kata Farel mampu membuatnya kembali mematung, laki-laki ituu mengatakan...

Bersambung...

Kekekekkeke, ga jelas banget yak? Ahahahha benar-benar lari dari ide awal. Waahh kacau. Sepertinya Penulis cantik telah menghancurkan part yang satu ini yaa... ehehhehe abis bingung juga nyari ide yang ilang-ilang itu. Memang benar-benar membuat penulis cantik bingung sendiri. Ahhh sudahlah, mau apapun yang terjadi nanti. Kita lihat saja. Ketemu di cerpen selanjutnya saja deh. ^_^


Salam~Mia Cantik~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar