Cerbung Love at First Sight part ~ 05

Hai guys, masih ditema yang sama nih. Entah benih cinta yang muncul atau karena memang ini karakter sedikit penting untuk dijadikan sedikit konflik, kelanjutan dari cerbung love at first sight minggu lalu admin lanjutin.

Dan untuk yang udah penasaran sama kelanjutannya langsung aja cekidot. Dan untuk yang masih pengen ngintip cerpen part seebelumnya klik aja disini Cerbung love at first sight part ~04 Over all happy reading yaa...

Cerbung Love at First Sight part ~ 05
Cerbung Love at First Sight part ~ 05

Cerbung Love at First Sight


Huuffhh... ini udah entah keberapa kalinya aku mengehela nafas panjang, menyadari ada beberapa energi yang hilang dalam tubuhku setelah kejadian memalukan serta menguras emosi tadi siang, benar-benar membuat tubuhku seolah tanpa tenaga, berharap banyak dalam hati kalau aku tidak akan bertemu lagi sama pria maupun wanita itu. Karena aku yakin, aku tidak akan baik-baik saja jika sampai bertemu dengan salah satu dari mereka maupun dua-duanya.

Baiklah, sebaiknya aku melupakan saja kejadian itu dan pura-pura itu tidak pernah terjadi dari pada makin sebel karenanya, ayolah Devi semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja, dan semua akan baik-baik saja. Titik. Huuffhh....

"Devi, aku rasa sebentar lagi kamu akan terjatuh," kalimat itu membuatku menoleh keasal suara, terjatuh? "Emm iya. Terjatuh, karena kamu menghembuskan nafas berat yang mungkin bisa membuat lubang dibumi yang kamu pijak," lanjut Revan sambil angkat bahu dan kemudian tersenyum saat aku memajukan bibirku beberapa senti karena ucapannya. Huh pria ini, ada-ada saja sih.

"Aku tidak menghembuskan nafas seberat itu," kilahku dan kembali menatap kedepan karena lagi-lagi tidak bisa menatap kearah Revan yang berdiri disampingku. Tidak, maksudku akan lebih tepat jika dibilang berjalan. Sore ini aku dan Revan baru pulang dari belanja buku, karena aku dan Revan memiliki hobby yang sama. Membaca buku-buku novel terbaru yang sedang terbit. Emm tidak juga sih, aku suka mengoleksi semua buku-buku novel yang baru terbit maupun yang sudah lama.

"Ada masalah apa?" tanya Revan sambil menahan tanganku dan memaksaku untuk kembali menatap kearahnya, kaget aku terdiam untuk beberapa saat. Kaget karena dihentikan tiba-tiba, kaget karena Revan menggenggam tanganku dan kaget karena dia bisa tau aku sedang punya masalah.

"Eee itu..." sepertinya kekagetan itu membuat tubuhku kaku dan gugup seketika,

"Aku tidak bermaksud ikut campur, hanya saja aku siap menjadi pendengar terbaik kalau kamu memang membutuhkannya," kata Revan pelan dan melepas gengaman tangannya, membuatku kembali bisa bernafas lega. Sedikit mengurangi debaran jantungku yang sepertinya makin memompa lebih cepat disetiap interaksi yang dia lakukan. Melihat tatapannya membuatku sedikit merasa kekhawatiran yang terlintas disana, sepertinya dia memang sedang mengkhawatirkanku. Dan aku rasa aku tidak boleh membuatnya semakin khawatir.

"Aku baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit lelah," balasku dan berusaha untuk tersenyum menenangkan, aku masih bisa melihat kalau Revan tidak percaya dengan apa yang aku katakan dengan tatapannya, tapi sepertinya dia juga ragu untuk memaksaku membuatnya tetap diam dan menatapku seolah sedang berdebat dengan fikirannya sendiri.

"Emm, baiklah. Aku tidak akan memaksamu kalau kamu memang tidak ingin mengatakannya," jawab Revan sambil angkat bahu dan memaksakan diri untuk tersenyum, kemudian kembali melangkah. Melihat sikapnya itu membuatku jadi sedikit merasa bersalah, sepertinya ia sempat berdebat dengan fikirannya sendiri. Namun tidak terlalu yakin dengan keputusannya untuk menyerah begitu saja, atau mungkin aku ceritakan saja dengannya ya.

"Kamu punya waktu lebih lama?" tanyaku sambil mengikuti langkah Revan yang masih menenteng buku yang tadi dibelinya, sebenarnya termasuk buku yang aku beli juga karena Revan menawarkan untuk membawa semuanya.

"Aku punya banyak waktu untuk mengantarmu pulang, atau ketempat dimanapun yang kamu inginkan," jawab Revan.

"Kalau begitu mungkin kita bisa mampir di Kaffe sebentar. Aku rasa mungkin ada yang bisa aku katakan disana," balasku hati-hati, selain karena ragu untuk mengajaknya aku juga ragu apa sebaiknya mengatakan masalahku atau tidak.

"Aku rasa itu ide yang baik, yaudah. Ayo..." ajak Revan dengan senyum menenangkan, membuatku sedikit menghembuskan nafas lega. Ternyata tidak seburuk yang aku fikirkan, pria ini benar-benar menyenangkan. Dan cukup pengertian karena tidak pernah memaksaku untuk menuntut penjelasan, namun karena sikapnya ini lah yang membuatku ingin mengatakannya sendiri, tentunya aku tidak mau membuat orang yang aku suka berfikir buruk tentangku.

Cerbung Love at First Sight


"Aku siap membantumu jika kamu membutuhkannya," kata Revan sambil menatap kearahku setelah aku menyelesaikan ceritaku padanya tentang sosok David yang membuatku tertanggu, tentunya aku juga tidak menceritakan semuanya, akan memalukan kalau aku mengatakan bahwa aku mengaku Revan sebagai pacarku, jadi aku hanya menceritakan garis besarnya saja "Mungkin... menghajarnya?" lanjut nya sambil berfikir.


"Tidak, aku tidak bermaksud untuk membalasnya, aku hanya berharap kalau aku tidak bertemu dengannya lagi," jawabku sambil tersenyum menenangkan.

"Baiklah, aku punya harapan yang sama. Namun mungkin dia termasuk dalam daftar salah satu sainganku," balas Revan sambil lalu dan membuatku menatap kearahnya minta penjelasan "Bersaing untuk mendapatkanmu maksudnya," lanjutnya sambil tersenyum menggoda.

"Aku tidak merasa kalau kamu punya saingan," jawabku berusaha untuk mempertegas apa yang aku rasakan, Revan tampak tersenyum geli melihatnya. Membuatku menyadari apa yang aku katakan dan segera menutup mulutku karena ceroboh melakukannya, membuat malu saja.

"Apa itu artinya ada sedikit kemungkinan kalau kamu juga menyukaiku?" tanya Revan yang membuatku menatap kearahnya, apakah dia tidak menyadari kalau aku juga menyukainya. Apakah dia masih berfikir kalau aku tidak punya perasaan padanya? Ah jelas saja sih, aku kan tidak pernah mengatakan kalau aku menyukainya.

"Eee itu. Revan sebenarnya..."

"Aku tau," potong Revan sebelum aku sempat menyelesaikan apa yang ingin aku ucapkan, sebenarnya aku juga tidak siap untuk mengatakannya sekarang "Aku tida akan memaksamu, tenang saja. Ya sudah, kita pulang sekarang? Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengikatmu lebih dulu sebelum memintamu untuk menjadi pacarku, kamu harus yakin kan hatimu dulu dan kenali aku lebih jauh," lanjutnya sambil berdiri. Aku menghembuskan nafas panjang, sepertinya lain kali saja aku mengatakannya.

"Baiklah, ayo kita pulang," jawabku dan ikut berdiri kemudian melangkah keluar dari Kaffe. Menyadari kalau Revan masih berjalan disampingku, kemudian mengajakku mengobrol hal biasa yang tidak terlalu menunjukkan perasaan seperti tadi. Aku rasa Revan memang sosok yang menyenangkan. Selain karena dia tau hal yang dia lakukan itu benar, dia juga mementingkan apa yang aku rasakan.

Aku senang dengan sikap perahatian yang dia tunjukkan, seperti saat sedang berjalan seperti ini. Dia selalu berdiri tepat disampingku, dia selalu menempatkan aku disisi jalan dalam dan tepat disamping pembatas, sementara dia sendiri disisi lainnya. Tepat disamping kendaraan lain yang akan lewat, aku rasa sikap itu termasuk sikap yang mengaggumkan dari seorang pria, melindungiku dari sesuatu yang mungkin hal buruk akan terjadi.

Bagaimanapun, aku memang sudah menyukainya sejak awal, dan aku sudah tertarik padanya sejak pada panjangan pertama. Jadi aku yakin semua yang dia lakukan tidak ada cacat sedikit pun, aku merasa senang dengan semuanya. Aku mungkin memang harus secepatnya untuk mengakui apa yang aku rasakan sebelum Revan berubah fikiran dan akhirnya meninggalkanku.

Cerbung Love at First Sight


“Kamu belum mengatakan apa yang kamu rasakan?!” kalimat itu membuatku menjauhkan ponsel ditanganku dari jarang pendengaran yang bisa aku rasakan, Aish Olive ini selalu saja berteriak setiap kali dia merasa kaget. Apa dia tidak sadar kalau saat ini aku sedang mendengarkan lewat ponsel yang membuat suaranya itu langsung jelas terdengar ditelingaku.

“Tidak usah berteriak, aku bisa mendengarnya meskipun kamu mengatakannya dengan suara yang lebih pelan,” keluhku sambil merebahkan tubuhku diatas ranjang. Malam ini aku memutuskan untuk bercerita pada Olive apa yang aku alami dari pada aku harus bingung sendiri, rencanku agar sedikit mengurangi apa yang menjadi beban fikiranku, bukan untuk mendengar omelannya.

“Kamu tidak takut dia akan berpindah kelain hati kalau sampai sekarang bahkan dia tidak tau apa yang kamu rasakan ha?!” kembali terdengar suara Olive yang membuatku menghembuskan nafas sedikit kesal, sedikit menyesal dengan apa yang aku lakukan. Apa sebaiknya aku tidak usah cerita saja denganya kalau hanya mendengar omelannya semata, namun aku juga tau kalau apa yang Olive katakan memanglah benar. Revan juga butuh kepastian aku rasa.

“Aku belum berani untuk mengatakan hal itu dengannya, kamu tau sendiri bukan. Bersamanya saja membuatku membutuhkan tenaga ekstra dan debaran jantung yang terus berdetak diluar kendali, kamu fikir bagaimana bisa aku mengatakan tanpa membuatku gugup,” keluhku kearahnya.

“Aku rasa itu lebih baik, dia akan semakin yakin kalau kamu beneran menyukainya. Oh ayolah Devi, kamu tidak akan mengulur-ulur waktu dengan alasan gugup itu kan, aku tau kamu menyukainya. Jadi jangan biarkan kesempatan ini lenyap begitu saja,” nasehat Olive dan membuatku terdiam untuk beberapa saat.

“Kamu sendiri cukup menyadari apa yang aku katakana ini benar bukan?” kembali Olive mengatakan pendapatnya dengan nada tawa disela-sela kalimatnya, menandakan kalau dia senang dengan tebakan yang ia buat itu benar, membuatku mendengus namun tetap tidak menyalahkan apa yang dia katakan.

“Baiklah, baiklah. Aku akan berusaha untuk mengatakan pada Revan apa yang aku rasakan nanti, sekarang dia memberiku waktu untuk mengenalnya lebih jauh, jadi aku akan mengenalnya terlebih dahulu,” jawabku akhirnya, menyadari kalau berdebat dengan Olive tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada malah membuatnya makin mengomel dan tentunya aku sedang tidak ingin mendengar omelannya setelah kejadian David dan membuatku sebel sepanjang hari.

“Aku akan menunggumu untuk mengatakannya,” balas Olive sembil mengehembuskan nafas panjang, terdengar seperti dia sendiri sedang tidak mau berdebat lebh lama denganku “Oh ya, besok kamu tidak jalan dengan Revan lagi kan?” tanyanya kemudian.

“Besok? Aku rasa tidak, kenapa?” tanya ku setelah berfikir beberapa saat.

“Aku ingin minta bantuanmu, seperti yang kamu tau selama ini. Matematikaku benar-benar lemah. Dan kita punya pe-er yang harus segera diselesaikan dan akan dikumpulkan lusa. Jadi besok kamu harus membantuku untuk mengerjakannya.

“Baiklah, berhubung besok hari minggu. Aku akan berbaik hati untuk datang kerumahmu dan membantumu menyelesaikannya,” jawabku sambil menguap karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.

“Terimakasih, kamu memang sahabatku yang paling baik sedunia,” puji Olive sambil tertawa.

“Huh, gombal. Rayuanmu itu tidak mempang denganku, ya sudah kalau begitu sampai besok saja ya. Aku mau tidur, sudah ngantuk.” Lanjutku dan lagi-lagi menguap.

“Baiklah, selamat tidur….” Ucap Olive dan kemudian sambungan terputus, aku menatap langit-langit kamar sambil menerawang dan memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ah sudahlah, biarkan saja. Kemudian melangkah turun dari ranjang untuk meng charger ponsel ku sebelum kemudian tidur dan siap untuk bermimpi.

Cerbung Love at First Sight


Dengan langkah lebar aku menyusuri trotoar jalan, untuk pulang kerumah. Setelah selesai mengerjakan pe-er dirumah Olive aku memutuskan untuk segera pulang dan cepat-cepat beristirahat. Mengajari Olive matematika benar-benar membuat tenagaku menurun, ketidak mengertiannya dengan pelajaran yang satu itu benar-benar parah.

Kalau dia bukan sahabatku, aku tidak akan membantunya dengan sebaik itu. Namun meskipun dia sama sekali tidak mengerti, tapi aku senang karena Olive juga satu-satunya orang yang tidak gampang menyerah, dia tetap berusaha untuk menyelesaikan setiap pe-er yang diberikan. Meskipun itu harus menyeretku untuk melakukannya, yaahh aku rasa aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Sambil melangkah dengan lemah aku mengambil ponsel didalam saku dan memasang handset untuk mendengarkan lagu, sekedar merilex kan fikiran dan menormalkan perasaanku agar tidak stress. Terdengar alunan lagu mp3 yang merdu ditelingaku, menikmati setiap lirik yang diucapkan membuatku sedikit mengangguk-anggukkan kepalaku dan melangkah dengan santai. Menyenangkan.

Namun sepertinya kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena sebelum aku sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhku sudah ditarik paksa oleh seseorang dan hampir terjatuh kalau tidak segera ditahan oleh kedua tangan yang menyentuh kedua lenganku erat. Masih belum sepernuhnya menyadari apa yang terjadi aku berusaha untuk mengumpulkan semua kesadaran yang sempat berterbangan entah kemana.

Perlahan, aku melihat sosok didepanku yang masih menggenggam lenganku erat. Ekpresi marah dan khawatir jelas terpancar diwajahnya. Bingung dengan apa yang terjadi aku menatapnya tanpa ekpresi. Kemudian setelah semua kesadaranku penuh, aku siap menumpahkan amarahku karena pria ini yang dengan paksa menarikku untuk menatapnya membuatku tersadar akan kejadian beberapa hari lalu yang sangat ingin aku lupakan.

“Kamu ingin mati ha?! Kalau bunuh diri jangan didepanku juga dunk!!” sebelum aku sempat menumpahkan amarahku, David sudah membentakku terlebih dahulu. Membuatku menatap kaget kearahnya. Kemudian melihat kesekeliling, posisiku saat ini sudah ditepi jalan dan banyak kendaraan yang berlalu lalang disampingku.

“Dan berhenti mendengarkan lagu sambil melangkah,” kata David sambil menarik handset yang masih menempel ditelingaku, seenaknya saja dia. Aku sudah sempat protes sebelum kemudian menyadari espresi David yang lemah dan terduduk setelah melepaskan cekalannya dilenganku, tanpa sadar aku merasa bersalah dan menatap kearahnya yang tampak sedang berusaha menetralkan nafasnya.

“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanyaku akhirnya, setelah beberapa saat terdiam. Entah kenapa, melihat wajahnya yang seolah-olah ketakutan itu membuat emosiku sedikit menguap, namun pertanyaanku malah membuat amarahnya kembali meledak karena David menatapku tajam. Yang jujur saja membuatku merasa takut.

“Heh, pertanyaan bodoh. Aku sudah berteriak memintamu untuk menghindar, tapi kamu dengan santainya berjalan menuju kematian. Memangnya kamu tidak sadar kalau kamu hampir tertabrak mobil yang lewat didepanmu ha?!” kembali David mengatakan apa yang membuatku membulatkan mataku kaget, aku hampir tertabrak?

“Dan kalau kamu memang ingin melakukannya, sebaiknya tidak didepanku,” setelah mengatakan hal itu David langsung melangkah pergi. Meninggalkanku yang menatapnya dengan bingung, namun tetap tidak menahannya untuk minta penjelasan. Sepertinya kali ini memang salahku, melihat betapa khawatirnya dia saat menarikku kesisinya dan melihat ekpresi lega beberapa saat lalu meski nada membentak yang dia lakukan untuk meyadarkanku.

Perlahan aku menyentuh dada kiriku yang tampak terasa jantungku berdetak dua kali lebih cepat, sedikit bingung dengan perubahan yang terjadi setelah menatap kearah David tadi, kemudian aku menggeleng dan kembali berusaha untuk menyadarkan diri. Tidak mau terlalu ambil pusing dengan hatiku, kakiku melangkah berlawanan arah dari kepergian david tadi dan kembali menyusuri trotoar jalanan. Dan melangkah untuk kembali pulang kerumah. Membuang jauh-jauh perasaan yang sempat menganggu konsentrasiku.

Bersambung….

Berlanjut ke cerpen cinta love at first sight part 06

Detail cerpen
  • Judul cerpen : Love at First Sight
  • Penulis : Mia mulyani
  • Panjang : 2.110 word
  • Serial : Cerbung
  • Genre : Romantis, remaja

1 komentar:

Ranti Insan Anisa22 mengatakan...

Di tunggu kelanjutan ceritanya. :)

Posting Komentar