Cerpen cinta Sweety Heart ~ 08

Haiii, lambai-lambai tangan sok cantik, hehehhe masih adakah yang setia menunggu, langsung aja nih admin kasi Cerpen cinta Sweety heart, udah pada penasarankan sama kelanjutannya.

Beda sama cerpen sebelumnya Will you Marry me yang cuma dua part, kali ini entah sudah keberapa kalinya. Nah untuk yang penasaran sama cerpen sebelumnya, liat aja disini Cerpen cinta Sweety heart ~ 07. Over all, happy reading yaa...

Cerpen cinta Sweety Heart ~ 08
Cerpen cinta Sweety Heart ~ 08

Cerpen cinta Sweety heart


Savira menggengam tangan Farel sambil menatap kearah pria itu yang sedang terbaring diranjang rumah sakit, dengan perban dililitkan disekeliling kepalanya dan beberapa alat-alat yang tidak dipahaminya. Selang infuse disampingnya juga tidak mampu menarik perhatiannya dari memperhatikan pria didepannya. Sudah beberapa hari sejak kejadian kecelakaan itu, dan Farel juga belum menunjukkan cirri-ciri kalau ia akan membuka mata, membuat gadis itu tidak bisa konsentrasi dengan aktivitasnya dan sekarang memilih menemani pria itu beberapa hari ini.

Savira masih memperhatikan Farel yang masih belum sadarkan diri saat terdengar langkah kaki yang menghampiri kamar ruang rawat itu, kemudian terdengar pintu dibuka dari arah sampingnya, yang mau tidak mau membuat Savira memaksakan diri untuk mengalihkan tatapannya dari Farel dan melirik kearah pintu yang baru saja dibuka.

“Pagi Savira… Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Seril sambil melangkah menghampiri nya dan meletakkan sekeranjang buah diatas meja diikuti oleh Dirga yang ngekor dibelakangnya. Savira berusaha untuk tersenyum sekilah memanggapi.

“Seperti yang kamu lihat,” jawab Savira acuh tak acuh.

“Sepertinya kamu harus sedikit menyegarkan dirimu deh, sudah beberapa hari ini kamu terus berada disini. Dan lihat, matamu juga sudah seperti mata panda begitu, memangnya kamu tidak bisa istirahat dengan benar?” nasehat Seril mencemaskannya.

“Sepertinya aku selalu mimpi buruk beberapa hari ini, dan aku tidak bisa istirahat dengan baik. Tidak saat aku tau Farel sedang terbaring disini dan belum juga sadar dari kemaren,” jawab Savira dengan lemah.

“Aku tau Sav, tapi kamu juga butuh istirahat. Kalau kamu sampai ikutan sakit juga, nanti siapa yang akan jagain Farel kalau dia udah siuman coba,” kembali Seril memberikan nasehatnya.

“Lagian aku yakin, Farel juga nggak akan suka kalau dia tau ini. Kamu juga nggak boleh sakit dan membuatnya cemas kan?” kata Dirga sambil menyentuh pundak Savira yang terdiam tanpa bisa membantah, kalau difikir-fikir benar juga apa yang kedua sahabatnya katakana, namun untuk memejamkan mata saja dia terasa takut, karena mimpi buruk itu selalu menghantuinya, dan ia benar-benar tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan agar Farel membuka matanya.

“Ikut aku yuk, setidaknya kita lihat cerahnya matahari dipagi ini,” ajak Seril sambil menghampiri Savira dan berdiri tepat disampingnya, Savira masih terdiam dan ia menatap kearah Seril kemudian kearah Farel yang masih terbaring dirangjangnya.

“Aku yakin Farel nggak akan kemana-mana,” Dirga mengedipkan sebelah matanya kearah Savira menjawab tatapan gadis itu yang tampak ragu meninggalkan Farel sendirian dikamar rawatnya “Atau aku bisa kok tetap disini sampai kalian kembali,” lanjutnya menawarkan. Savira masih terdiam, menimbang apa yang sebaiknya ia lakukan.

“Ayolah Sav, setidaknya kamu harus sedikit terkena sinar matahari,” pujuk Seril sambil menyentuh bahu Savira yang kemudian dengan perlahan Savira menangguk, Seril dan Dirga tersenyum melihatnya sebelum kemudian membawa Savira menuju taman rumah sakit diatas atap gedung rumah sakit.

Cerpen cinta Sweety heart


“Kamu benar-benar sudah jatuh cinta sama Farel ya?” pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat Savira yang mendengarnya menoleh kearah Seril yang duduk disampingnya, saat itu mereka sedang diatas atap gedung rumah sakit. Terdapat beberapa tanaman bunga didalam pot disana, dan beberapa kursi panjang, suasana memang sedang tidak terlalu ramai karena hari juga sudah mulai siang, matahari bahkan dengan semua tenaga yang ia miliki langsung bersinar terang.

“Aku rasa bahkan aku sudah jatuh cinta dengannya bertahun-tahun yang lalu,” jawab Savira, Seril menatap kearahnya minta penjelasan karena pertemuan Savira dan Farel baru beberapa hari, bagaimana mungkin sahabatnya itu mengatakan kalau ia menyukai Farel sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Kamu bisa menjelasaknnya padaku?” tanya Seril karena sepertinya Savira tetap terdiam, kemudain Savira menghembuskan nafasnya pelan. Menatap kearah ufuk barat diamana tidak ada matahari disana. Sang surya belum mencapai ufuk itu, jadi dia tidak akan merasa kan silaunya cahaya sang surya.

“Aku bertemu dengannya bertahun-tahun yang lalu, saat itu dia sedang mengunjungi neneknya yang berada disini, hanya dalam wakut 2 minggu. Tidak lama bukan? Tapi bahkan dia sudah bisa membuatku jatuh cinta jauh sebelum waktu 2 minggu itu, kamu tau bahkan saat itu umur ku masih cukup anak-anak. Dia juga tidak sekeren saat ini, saat itu dia cukup gendut. Meskipun begitu aku menyukainya,” jawab Savira sambil tersenyum, mengingat masa-masa menyenangkan bersama Farel dulu.

“Maksudmu, dia cinta pertamamu?” tanya Seril tepat sasaran. Savira mengangguk.

“Benar, dia cinta pertamaku, tapi aku sendiri tidak pernah mengakui hal itu padanya, karena saat itu dia dengan seenaknya sudah mengatakan kalau aku pacarnya bahkan didepan semua keluarganya. Dia juga sepertinya tidak pernah mengharapkan jawabanku apa kah aku juga menyukainya atau tidak, dia hanya menganggapku pacarnya tanpa meminta persetujuanku, seenaknya saja,” gerutu Savira namun tidak ada kemarahan dalam nada suaranya.

“Aku rasa dia tetap seperti itu sampai sekarang bukan?” balas Seril sambil tersenyum, Savira ikut tersenyum mengingat pertemuan nya pada Farel beberapa hari yang lalu, meski ia tau kalau saat itu Savira menyukai Dirga, Farel tetap mengatakan untuk menjadi pacarnya.

“Benar, bahkan dia tetap mengaku aku pacarnya meski dia tau aku menyukai orang lain,” jawab Savira sambil tersenyum.

“Kamu menyukai orang lain?” tanya Seril kaget, tidak menyangka kalau Savira akan mengatakan hal itu padanya
“Jangan-jangan pria itu…”

“Benar,” potong Savira sebelum Seril menyelesaikan ucapannya, namun Savira tidak berani menatap sahabatnya
“Aku menyukai Dirga, pacarmu sekarang,” lanjutnya membuat Seril menutup mulutnya karena kaget “Aku minta maaf, tapi kamu tenang saja. Karena saat ini aku tidak punya perasaan lebih terhadap Dirga selain persahabatan. Karena Farel sudah merebut hatiku kembali, bahkan kali ini aku tidak yakin bisa mendapatkan hatiku kembali, karena dia sudah mencuri sepenuhnya dariku,” Savira menatap kearah Seril yang masih menatap kearahnya “Kamu mau memaafkanku?” tanyanya.

“Kalau orang yang kamu suka itu Dirga, aku cukup merasa bersalah Savira… Maafkan aku karena aku sama sekali tidak tau akan hal itu, bahkan aku memamerkannya padamu tanpa beban. Aku… aku…” Seril tidak mampu meneruskan ucapannya, tapi air matanya jatuh dengan derasnya membuat Savira merasa bersalah, namun ia sudah mengakuinya, bagaimanapun ia tidak mungkin menyembunyikan apapun pada sahabatnya. Itu gunanya sahabat bukan?

“Aku baik-baik saja, dan aku ikut senang atas hubungan kalian. Bahkan sekarang aku mau berterimakasih, kalau kalian tidak pacaran. Aku rasa mungkin aku tidak akan pernah bisa menyadari perasaanku pada Farel sebenarnya. Aku mencintai Farel Seril… percayalah padaku,” aku Savira sambil menggenggam tangan sahabatnya.

“Kenapa kamu menyimpan semua rasa sakitmu sendiri, pantas saja kamu terus menghindariku dan Dirga, aku yakin itu masa yang tersulit dalam dirimu, aku sudah menyakitimu dengan banyak luka Savira…” tubuh Seril bergetar menahan isak tangisnya, perasaaanya benar-benar sakit saat ini. Bagaimana mungkin ia bahagia diatas penderitaan sahabatnya selama ini, bahkan ia dengan bangganya memamerkan kebagaiaannya itu.

“Itu sudah berlalu seril… Itu sudah berlalu, aku sekarang bahagia melihatmu. Aku sudah punya orang yang aku sukai sekarang, bahkan yang aku fikirkan saat ini. Bukan rasa sakit ku dulu, tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaan Farel saat itu. Saat dia membantuku untuk bangkit padahal dia sendiri menyukaiku, aku sudah melukainya begitu banyak” kata Savira dan meneteskan air matanya, Seril yang melihat itu langsung memeluk sahabatnya berusaha untuk menguatkan sahabatnya meskipun ia sendiri sedang merasakan sakit. Merasa telah menyakiti sahabatnya, dan ia yakin Savira juga merasakan hal yang sama karena merasa telah menyakiti Farel.

“Aku tetap berada disampingmu kapanpun kamu membutuhkan seseorang Savira…” kata Seril masih memeluk Savira dengan erat.

“Kamu janji ya, tidak akan mengatakan hal ini pada Dirga. Aku mau kamu tetap bersamanya dan melanjutkan hubungan yang bahagia, kamu mau melakuaknnya kan?” tanya Savira sambil melepas pelukannya dan menatap kearah Seril minta ketegasan.

“Aku pasti akan melakukannya Savira…” jawab Seril sambil mengangguk.

“Terimakasih…” ucap Savira kemudian kembali memeluk sahabatnya, saat ini yang ia butuhkan hanya sahabat. Ia tidak tau lagi harus melewati ini bagaimana kalau tanpa sahabtnya.

Cerpen cinta Sweety heart


“Savira…” satu kalimat itu membuat Savira yang sedang menundukkan kepalanya menoleh kaget kearah sosok didepannya. Sosok yang beberapa hari ini ditungguinya, bahkan ia tidak melepaskan genggamannya pada pria itu. Savira bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Farel.

“Farel… kamu udah sadar?” tanya Savira kaget bercampur senang, menatap Farel yang menatapnya dengan lemah namun ia masih mampu tersenyum. Memberikan sedikit kelegaan pada hatinya.

“Wajahmu jelek…” ucap Farel lemah.

“Huh, kamu itu ya. Memangnya gara-gara siapa aku jadi seperti ini,” gerutu Savira cemberut mendengar ucapan Farel, sementara Farel malah tersenyum “Masih sakit-sakit juga, sempet-sempetnya ngeledekin orang…” lanjutnya.

“Aku senang kamu orang pertama yang aku lihat,” kata Farel sambil tersenyum, nadanya masih terdengar cukup lemah setelah beberapa hari tidak sadarkan diri.

“Aku bahkan tidak pernah meninggalkanmu, sementara kamu sendiri kenapa selalu saja membuatku menunggu. Kamu selalu saja membuatku menunggu, dan kamu kembali dengan waktu yang lama. Kamu… kamu…” Savira tidak bisa meneruskan kalimatnya, hanya air matanya yang malah mengalir keluar membuat Farel mengusap air matanya meski tangannya masih lemah untuk digerakkan, Savira menatap kearah Farel kaget.

“Aku tidak pernah suka melihat air matamu,” ucap Farel “Aku minta maaf yaa…” lanjutnya tulus. Bukannya berhenti kalimat itu malah semakin membuat Savira menangis semakin menjadi.

“Kalau kamu tidak suka melihat air mataku, tetaplah disisiku dan jangan pernah berani-berani meninggalkanku lagi,” tandas Savira yang membuat Farel tersenyum.

“Aku rasa itu hukuman yang pantas,” jawab Farel sambil tersenyum. Savira duduk kembali dikursinya dan masih menatap kearah Farel yang terbaring lemah “Emm sebenernya ada yang ingin aku katakana padamu,” lanjutnya.

“Apa?” tanya Savira.

“Aku merindukanmu,” jawab Farel sambil menatap tulus kearah Savira yang langsung memerah wajahnya, Farel yang melihat itu langsung tersenyum. Menyadari mungkin sudah banyak yang berubah sejak ia tidak disamping gadis itu, namun ia yakin ia akan selalu mendapatkan gadisnya bagaimanapun setelah dia kembali.

“Aku juga merindukanmu, cepatlah sembuh dan kita akan kembali bersama,” balas Savira sambil menggenggam tangan Farel.

“Sepertinya ada banyak hal yang terjadi saat aku tidak ada disampingmu, apa yang membuatmu berubah fikiran dan mau membalas perasaanku?” tanya Farel yang membuat Savira menyadari sesuatu. Dan dengan cepat melepaskan tangan yang ia genggam. Lalu menggurutu dihati, pria ini benar-benar tidak tau suasana. Seenaknya saja ia merusaknya.

“Tidak ada yang berubah sama sekali,” ucap Savira cemberut membuat Farel tersenyum senang, sepertinya sudah lama ia tidak melihat wajah itu. Savira akan sangat tambah imut jika dalam keadaan cemberut seperti itu. Ia merindukan gadisnya, kalau keadaannya sedang lebih baik. Ia ingin sekali memeluk tubuh gadisnya saat itu juga. Namun keadaannya tidak bisa untuk memaksanya melakukan hal itu.

Savira masih cemberut mendengar ucapan Farel sementara Farel sendiri menikmati keterpesonanya. Dalam hati Savira bersyukur karena Farel sudah sadarkan diri, dan ia bahagia karena Farel masih Farel yang ia kenal, ia belum mengatakan kalau ia sudah mengingat masa lalunya namun ia pasti akan mengatakan hal itu jika waktunya sudah tepat nanti. Setidaknya bukan ditempat seperti ini, dalam hati ia bahagia karena Farel masih mengingatnya dan berusaha untuk membuatnya kembali menyukai pria ini.

Savira yakin kalau perasaannya bahkan tidak pernah berubah, ia jadi meragukan rasa sukanya pada Dirga. Ia sekarang bahkan tidak yakin lagi kenapa ia bisa merasa dulu menyukai pria itu, karena pria itu adalah pria yang dekat dengannya, atau pria satu-satunya yang memperlakukannya dengan baik. Atau pria itu hanya bayangan dari wujud Farel yang sangat ia rindukan, ia bahkan tidak tau kenapa ia bisa melupakan Farel begitu saja. Kenapa ia bisa dengan bodohnya melupakan pria itu dan mengaggap kalau ia menyukai Dirga, kesimpulan konyol dari mana itu.

Tapi apapun itu, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Ia yakin semua akan kembali normal jika semuanya sudah kembali. Ia pasti akan membuat Dirga dan Seril tetap bersama, dan Savira janji akan mengatakan pada Farel peraasaan nya yang sebenarnya. Karena sejak dulu ia tidak pernah mengatakna pada pria itu kalau ia menyukainya. Savira yakin, sebenarnya Farel juga membutuhkan hal itu. Meskipun tingkahnya seenaknya, tapi pengakuannya mungkin akan sedikit menyembuhkan rasa sakit yang Farel rasakan saat membantunya mengatasi rasa sakit karena Dirga. Bagaimanapun pria itu sudah melakukan hal yang sulit beberapa hari ini, tidak ada salahnya kalau dia membantunya untuk memberikan sedikit kebahagiaan bukan?

Bersambung...

Bersambbung dulu yaa. Nanti bakalan dilanjut lagi kok, admin juga lagi bikin cerpen baru yang nggak tau juga bakal diposting kapan, hehehehe ditunggu aja lah yaa...

Detail cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar